12 Sep 2012

Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB

Author: shofiyatuls09 | Filed under: Artikel

Suatu pemahaman baru terhadap masyarakat pedesaan sedang dibutuhkan, seiring dengan perubahan di pedesaan dan perkotaan, baik di dalam Indonesia maupun dalam ranah global. Menyadari terdapat masih adanya ketimpangan, maka realitas sosial tersebut perlu didalami secara kritis. Yaitu memahami struktur kesenjangan, diikuti upaya menuju keadilan melalui pengembangan masyarakat. Jaringan hubungan semua pihak akan dijalin melalui hubungan setara dengan aksi komunikatif.

Departemenisasi yang berjalan dengan proses cukup panjang pada akhirnya dapat menetapkan departemen baru di IPB beserta mandatnya yang akan diemban pada masa mendatang. Salah satu departemen yang di-tetapkan yakni Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (KPM). Benih kehadiran departemen ini mulai ditanam pada tahun 1947, yakni saat didirikannya Faculteit voor Landbouwwetenschappen (Fakultas untuk Ilmu–ilmu Pertanian) dengan dua jurusan yaitu jurusan pertanian dan kehutanan. Fakultas ini semula bernaung dibawah Universiteit Van Indonesia. Benih ini mulai bertunas pada tahun 1960 yakni saat didirikannya Fakultas Pertanian-Universitas Indonesia dengan tiga departemen, yakni Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Departemen Pengetahuan Alam dan Departemen Kehutanan. Pada 1 September 1963, Institut Pertanian Bogor berdiri, Departemen Sosek mulai berkembang secara mantap dan pasti. Pada tahun 2005 Departemen Sosek terbagi menjadi beberapa departemen seiring proses departe-menisasi kebijakan IPB dan salah satunya adalah departemen KPM.

Departemen KPM IPB dibentuk untuk pengembangan keilmuan yang mampu ”mengintegrasikan” sejumlah orang dari kelompok Ilmu-Ilmu Sosial dengan latar belakang cabang ilmu yang berbeda dan dengan ”membawa” beberapa aktivitas pendidikan, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat dari departemen yang sebelumnya ada. Oleh karena itu departemen ini dibentuk berdasarkan keragaman personal dan aktivitas yang berbeda sehingga pada tahap awal pem-bentukan departemen ini secara filosofis ”ditopang” oleh mazhab keilmuan yang beragam. Dalam departemen ini dibangun suatu proses komunikasi antar orang, keilmuan, dan antar-mazhab (paradigma) keilmuan untuk membentuk dan membangun suatu departemen dengan landasan filosofis yang tegas dan berwatak.

Berdasarkan Surat Keputusan Rektor Institut Pertanian Bogor Nomor: 001/K13/PP/2005 Tanggal 10 Januari 2005, mandat Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (KPM) Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB.

MAYOR S1

Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

MINOR S1

Komunikasi
Pengembangan Masyarakat
Ekologi Politik
sumber : fema.ipb.ac.id

14 Apr 2011

copas

Author: shofiyatuls09 | Filed under: Artikel

// Azimi BloG Welcome to My world <]] ++";
tb9_rptType = 'infinite';
tb9_rptNbr = 5;
tb9_speed = 100;
tb9_delay = 2000;
var tb9_counter=1;
var tb9_currMsg=0;
var tb9_timerID = null
var tb9_bannerRunning = false
var tb9_state = ""
tb9_clearState()
function tb9_stopBanner() {
if (tb9_bannerRunning)
clearTimeout(tb9_timerID)
tb9_timerRunning = false
}
function tb9_startBanner() {
tb9_stopBanner()
tb9_showBanner()
}
function tb9_clearState() {
tb9_state = ""
for (var i = 0; i < tb9_messages[tb9_currMsg].length; ++i) {
tb9_state += "0"
}
}
function tb9_showBanner() {
if (tb9_getString()) {
tb9_currMsg++
if (tb9_messages.length <= tb9_currMsg) {
if ((tb9_rptType == 'finite') && (tb9_counter==tb9_rptNbr)){
tb9_stopBanner();
return;
}
tb9_counter++;
tb9_currMsg=0;
}
tb9_clearState()
tb9_timerID = setTimeout("tb9_showBanner()", tb9_delay)
}
else {
var tb9_str = ""
for (var j = 0; j < tb9_state.length; ++j) {
tb9_str += (tb9_state.charAt(j) == "1") ? tb9_messages[tb9_currMsg].charAt(j) : "____"
}
document.title = tb9_str
tb9_timerID = setTimeout("tb9_showBanner()", tb9_speed)
}
}
function tb9_getString() {
var full = true
for (var j = 0; j

27 Feb 2011

…selarik puisi tentang bintang biru..

Author: shofiyatuls09 | Filed under: Note

bintang biru..

hadir untuk kemudian memastikan bahwa cahaya biru itu punya kilau keperakan

maka hanya bagiku,

setiap kisah tersadur oleh kenyataan demikiannya cinta

izinkan kumemupuk hidup pada bintang,

dengan raut-raut cinta yang memikat kala malam mulai gadaikan langit demi sebentuk romantisme dan keindahan,

yang rampung tercipta menjelang pelarianku

lepaskan aku…

dan biarkan maka ku kan temui bintang dalam dekap malam-malam panjang

dan dentingan kisah,..

milikku seorang bersama idealisme cinta dan rintih rintik hujan yang menderu atasku

selarik puisi tentang bintang buatku tertahan,

menoreh genggaman imaji bimbing aku menarik diri dari segenap pelampiasanku atas cinta

serta gemuruh rasa yang tak kunjung reda saat dia coba tawarkan diri

dia bintang yang imajiner (bahwa sesungguhnya tiap apa-apa yang terlahir ke muka dunia adalah imajiner)

dia bintang yang tercipta untukku (bahwa sesungguhnya apabila Tuhan menyatukan kami, aku bisa bilang apa)

dia bintangku (maka apapun itu, ia kuterima sebagai konsekuensi)

dan dia bintang biru bagiku,

atas pengharapan cinta….

esaz.061010.1415.ctg12m.fa.imajnrblgbintng.darmaga.bogor

27 Feb 2011

Tahun 2020 Indonesia Kehabisan Guru

Author: shofiyatuls09 | Filed under: Artikel

Hari-hari terakhir ini sedang gencar ditayangkan dua iklan layanan masyarakat di setasiun-stasiun televisi, baik TVRI maupun stasiun televisi swasta. Iklan yang satu berisi pesan tentang anak asuh dan yang lain melukiskan kekurangan guru di negeri kita tercinta ini. Walaupun hanya berdurasi beberapa detik, kedua iklan ini cukup mengundang perhatian, terutama iklan yang disebutkan terakhir.

Kekurangan guru. Sungguh sebuah realitas potret pendidikan kita (salah satu sisi) yang sangat menyedihkan. Betapa tidak, pendidikan adalah modal utama terciptanya kemajuan peradaban sebuah bangsa. Di pihak lain, guru sebagai tenaga profesional di bidang ini justru jumlahnya semakin langka.

Lalu, apa jadinya jika pada tahun-tahun mendatang tidak mudah dijumpai sosok guru? Barangkali Anda semua sudah tahu jawabannya. Sudah pasti peradapan kebudayaan di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini semakin parah daripada kondisi sekarang. Mengapa sampai terjadi kondisi seperti ini?

KILAS BALIK
Keadaan pendidikan seperti dipaparkan pada bagian sebelumnya tentu tidak terjadi bagitu saja. Hal itu pasti ada pemicunya. Penyebab kekeurangan guru yang akan saya paparkan di sini bukan berasal dari hasil penelitian mendalam, tetapi sekadar pengamatan sekilas dan dugaan. Penyebab penurunan jumlah sumber daya manusia (SDM), dalam hal ini guru, akhir-akhir adalah ditutupnya lembaga-lembaga pendidikan keguruan.

Pada paruh pertama tahun 1990-an semua Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan Pendidikan Guru Agama (PGA) ditutup. Penutupan lembaga pendidikan tersebut beralasan bahwa jenjang pendidikan dasar sudah tidak layak lagi diajar oleh guru-guru tamatan SPG yang notabene hanya berjenjang pendidikan menengah. Sebagai gantinya dibukalah Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Selain itu, sebelum penutupan lembaga-lembaga pendidikan keguruan itu didahului dengan lahirnya sebuah kebijakan yang menetapkan bahwa lulusan SPG tidak otomatis atau langsung diangkat sebagai pegawai negeri, kecualai beberapa orang siswa berprestasi pada tiap angkatan. Akibatnya, banyak lulusan SPG yang beralih ke profesi lain, misalnya pekerja pabrik atau tambak. Fakta seperti ini sangat disayangkan karena para siswa SPG adalah siswa pilihan. Lulusan SLTP yang dapat diterima di SPG adalah siswa yang mempunyai NEM minimum 42,00 dan harus melalui ujian saringan yang bertahap-tahap. Hal itu menunjukkan bahwa yang dapat d iterima di SPG adalah manusia-manusia cerdas dan pilihan. Jadi, mereka sebenarnya adalah tenaga-tenaga potensial.

Berikutnya, menjelang akhir tahun 2000, semua IKIP di Indonesia berubah menjadi universitas meskipun masih ada beberapa STKIP dan FKIP di universitas-universitas. Perubahan status ini tentunya diikuti juga perubahan visi dan misi. Semula berstatus Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan (LPTK)sebagai pencetak tenaga-tenaga pendidik profesional berubah menjadi universitas yang mencetak sarjana-sarjana ilmu murni. Barangkali kebijakan ini bertujuan untuk mencapai target sarjana-sarjana andal di bidang IPTEK dalam rangka menyongsong lahirnya Negara Indonesia sebagai negara maju berbasis teknologi. Obsesi seperti ini sangat bagus. Akan tetapi, penyakit latah bangsa Indonesia ini sukar sekali hilang. Artinya, pada waktu kibijakan perubahan status IKIP menjadi universitas itu disetujui, seharusnya beberapa IKIP di Jawa, Sumatera dan Sulawesi yang sudah berkualitas tetap dipertahankan. Dengan demikian, jumlah guru nantinya tetap tercukupi karena sampai kapan pun sektor pendidikan di sebu ah bangsa tidak akan ditutup. Hal itu berarti bahwa sampai kapan pun tenaga guru masih dibutuhkan.

APA SOLUSINYA
Kekurangan guru, seperti diilustrasikan dalam iklan layanan masyarakat di televisi, baru terjadi pada jenjang pendidikan dasar. Apabila diamati, fenomena ini cukup realistis menggingat penutupan SPG dan PGA sudah hampir sepuluh tahun yang lalu. Lulusan PGSD pun tidak semuanya dapat diterima sebagai pegawai negeri. Sementara itu, pada jenjang pendidikan menengah fenomena kekurangan guru masih belum terasakan. Hal itu wajar karena penutupan IKIP-IKIP baru dua tiga tahun terakhir. BISAKAH ANDA BAYANGKAN PADA TAHUN 2020 MENDATANG?

Untuk mengatasi persoalan kekurangan guru pada jenjang pendidikan dasar, barangkali buah pikiran saya ini dapat dijadikan bahan diskusi. Setelah kebijakan yang menghentikan pengangkatan tenaga guru sekolah dasar (SD), banyak lulusan SPG atau PGA beralih profesi ke bidang lain. Hal itu seharusnya tidak boleh terjadi mengingat mereka adalah tenaga-tenaga pilihan. Ditambah lagi oleh sistem penerimaan mahasiswa PGSD. Dari awal dibukanya, PGSD menerima mahasiswa dari lulusan SMA. Materi soal tesnya pun disesuaikan dengan standar pengajaran di SLTA umum. Tentu saja hal ini merupakan kendala bagi lulusan SPG atau PGA untuk bersaing dengan lulusan SMA karena materi yang diajarkan di SLTA umum dan kejuruan sudah barang tentu berbeda. Akhirnya, para lulusasan SPG jarang yang diterima.

Pada saat perekrutan mahasiswa PGSD seharusnya yang diutamakan terlebih dahulu adalah lulusan SPG atau PGA. Baru kemudian setelah semua lulusan SPG atau PGA ini sudah habis, perekrutan dibuka untuk lulusan SMA.

Akhirnya, untuk mengatasi persoalan kekurangan guru SD, mengapa tidak dicoba untuk memanggil kembali lulusan SPG dan PGA yang belum sempat diterima sebagai guru negeri? Beri mereka beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di PGSD atau STKIP. Setelah lulus langsung diangkat sebagai tenaga guru negeri.
_Mohammad Asyhar_

24 Feb 2011

my first post

Author: shofiyatuls09 | Filed under: akademik

ini adalah postingan pertama saya. link ke http://ipb.ac.id

bit torrents lotus karls mortgage calculator mortgage calculator uk Original premium news theme